Tuesday, February 22, 2011

BIntaro

Thursday, April 02, 2009

Tesis : Analisis Pendapatan Usahatani dan Pemasaran Gambir di Kab. Pakpak Bharat, Sumut, 2007

Check out this SlideShare Presentation:

Sunday, August 07, 2005

Artikel ilmiah populer : Teknologi pertanian, jawaban pertanian masa depan

Teknologi pertanian, jawaban pertanian masa depan

Perdagangan bebas ASEAN (ASEAN Free Trade Area/AFTA) sudah diberlakukan per 1 Januari 2003, sedangkan pasar bebas Asia Pasific dimulai tahun 2010 dan pasar bebas dunia tahun 2020. Konsekuensi diberlakukannya pasar bebas adalah hadirnya produk luar yang mungkin dengan harga yang sangat murah, seperti paha ayam dari Amerika Serikat dan jerohan ternak dari Australia serta kelebihan produksi yang melimpah kemudian dilempar ke Indonesia, tujuannya agar harga di dalam negeri mereka tetap tinggi. Sebagai negara dengan jumlah penduduk yang relatip cukup besar, Indonesia akan menjadi eluang dan potensi yang sangat bagus bagi negara-negara asing untuk memasarkan produknya. Hal ini sudah terbukti bahwa Indonesia adalah pasar yang empuk bagi mereka dan kenyataan tersebut sekarang ini sedang berlangsung.

Tingginya impor produk pangan saat ini, mungkin sudah tidak tepat lagi sebutan negara agraris yang seolah-olah kita lebih unggul di bidang pertanian dari negara-negara industri. Sedangkan kenyataannya, kita hanya unggul secara kuantitatip dan bukan secara kualitatip. Negara industri memiliki keunggulan teknologi, mampu menciptakan pertanian yang efisien dan menguasai pasar. Sedangkan pertanian Indonesia, sebagian besar didukung oleh petani kecil yang subsisten, berteknologi rendah, dan berlahan sempit serta kebijakan pertanian yang kurang berpihak kepada petani.

Rendahnya daya saing kita bisa dilihat dari produk hasil pertanian. Meskipun negara kita separuh dari angkatan kerjanya bekerja di sektor pertanian, namun kita masih mengimpor banyak sekali hasil pertanian. HKTI mengungkapkan bahwa sampai tahun 2002, setiap tahun impor beras sekitar 2 juta ton, jagung 1 juta ton, kedelai 0,8 juta ton, gaplek 0,9 juta ton, gandum 4,5 juta ton, gula 400.000 ton, dan ternak sapi setara dengan 375.000 ekor, terdiri dari 290.000 ekor sapi hidup dan 22.000 ton daging ekuivalen dengan 85.000 ekor. Untuk produk buah, pada tahun 1996 Departemen Pertanian mencatat volume impor buah segar/beku sebesar 141.323.577 kg, dengan nilai 101.508.178 dollar AS. Tahun 1998, ketika mulai diterpa krisis ekonomi, Indonesia hanya mengimpor buah segar/beku dengan volume 71.627.865 kg dengan nilai 36.852.896 dollar AS. Tahun 2001 ketika ekonomi mulai lebih bergairah, Indonesia mengimpor buah segar/beku sebanyak 241.396.091 kg, dengan nilai 140.733.786 dollar AS. Nilai ini hampir empat kali lipat nilai impor buah segar/beku tahun 1998, hanya dalam tempo tiga tahun.

Pada saat negara produsen pertanian berlomba-lomba untuk meningkatkan ekspor produk-produk unggulan berikut para tenaga ahlinya. Justru Indonesia pada saat ini termasuk negara pengimpor bahan pertanian terbesar dan penyedia tenaga kerja rendahan sektor perkebunan untuk negara lain. Bahkan di dalam negeri sendiri kondisi daya saing pertanian Indonesia kalah bersaing dengan produk impor. Jika kita tidak mampu memperkuat sektor pertanian dan mengelolanya dengan baik, maka kehancuran pertanian Indonesia tinggal menunggu waktu saja, hal ini berarti jutaan petani Indonesia akan kehilangan pekerjaan dan akibatnya pangan bagi rakyat Indonesia akan semakin tengantung dari impor.

Sementara kita masih berorientasi pada target pencapaian jumlah produksi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, pesaing kita sudah melangkah lebih jauh dengan kualitas dan nilai tambah. Sebelum dimulainya pasar besa, dulu kita punya ilustrasi bahwa dalam persaingan bebas, apel hasil petani di Malang akan bersaing ketat dengan apel dari USA dan Selandia Baru, sementara jeruk Medan dan Pontianak akan bersaing dengan jeruk dari Pakistan atau Australia. Sekarang, ilustrasi tersebut menjadi kenyataan, hanya bedanya buah-buahan impor sangat dominan di pasar domestik bahkan sampai di pasar tradisional. Sedangkan buah-buahan lokal makin terpinggirkan.

Dalam jangka lima tahun ke depan, petani dikita akan dihadapkan pada pesaing yang lebih kuat baik dari segi modal, teknologi, branded image, dan kualitas. Sekarang kita masih membayangkan bersaing dengan perusahaan Dole atau Del Monte yang menghasilkan nenas dan pisang. Tapi dalam lima tahun mendatang, raksasa agroindustri tersebut akan datang dihadapan kita. Dulu kita masih bangga dengan branded image jeruk Medan, apel Malang, duku Palembang, durian Parung, tetapi sekarang product image sudah bergeser menjadi serba Bangkok. Jika kita melewati jalur utara dan berhenti di sekitar jalur Semarang Solo, dulu ada sentra buah kelengkeng. Di jalur tersebut pun sekarang selalu ramai pedagang berjualan buah kelengkeng, hanya bedanya buah kelengkeng yang dijual ternyata berasal dari buah impor Thailand.

Rendahnya daya saing produk pertanian dewasa ini sangat relevan dengan data penelitian World Economic Forum (WEF) yang menyebutkan daya saing Indonesia pada tahun¡¡2004 menduduki peringkat 69 dari 104 negara 3 tingkat lebih baik dibanding tahun 2003 yang menduduki peringkat 72. Untuk sesama negara Asia tenggara, Singapura 7, Malaysia 31, Thailand 34, Philipina 76 dan Vietnam 77. Sementara hasil penelitian sebelum krisis pada tahun 1996 menyebutkan bahwa posisi Indonesia menduduki peringkat ke-41 dari 46 negara terkemuka di antara sekitar 200 negara di dunia.

Sejalan dengan kebijakan untuk meningkatkan produksi, maka peran teknologi pertanian menjadi tuntutan sekaligus kebutuhan untuk peningkatan produktivitas dan kualitas hasil budidaya pertanian. Orientasi pada subsistensi harus diubah menjadi orientasi agrobisnis. Pelaku sektor pertanian harus semakin disadarkan bahwa nilai tambah tertinggi terletak pada proses pascapanen. Pada saat berkesempatan mengunjungi pabrik makanan di Jawa Timur, penulis sempat mengadakan tanya jawab tentang bahan baku untuk membuat produk makanan tersebut, ternyata mereka mengimpor bubuk coklat dari Malaysia. Padahal kita punya coklat banyak di Sulawesi, Jawa Barat, Jawa Timur, tetapi kenapa harus impor? Disinilah teknologi dapat menjawabnya.

Teknologi pertanian dapat diterapkan mulai dari persiapan lahan, proses produksi benih, penanaman, pemeliharaan, pemanenan, penanganan pasca panen sampai pada saat proses produksi pengolahan. Termasuk didalamnya adalah pengangkutan dan penyimpanan. Contoh pentingnya teknologi harus diterapkan adalah kenyataan bahwa tingkat susut panen padi kita masih tinggi, BPS menyebutkan kehilangan hasil panen dan pasca panen akibat dari ketidaksempurnaan penanganan pasca panen mencapai mencapai 20,51%, dimana kehilangan saat pemanenan 9,52%, perontokan 4,78%, penggilingan 2,19% dan pengeringan 2,13%. Angka kehilangan dari data BPS, jika dikonversikan terhadap produksi padi nasional diperkirakan nilai kerugian lebih dari Rp15 triliun. Sedangkan data FAO, prosentase kehilangan pasca panen padi rata-rata kehilangan di negara berkembang antara 15 ¨C 16 %. Jika tingkat kehilangan panen bisa ditekan sampai minimal 0,5%-1% untuk setiap kegiatan pasca panen dan secara bertahap dapat dikurangi antara 3%-5%, jika prosentase ini dikalikan dengan total produksi berarti bisa dihemat sekitar 1,59- 2,65 juta ton.

Sangat dimungkinkan kalau buah dan sayur tidak mampu bersaing dengan produk impor. Karena tingkat kesadaran untuk memperlakukan produk pertanian masih rendah. Cara pengangkutan yang tidak baik, penyimpanan yang tidak memperhitungkan suhu lingkungan, sangat perpotensi untuk merusak produk. Jadi tidak salah jika ada anggapan bahwa sebenarnya keberhasilan penanganan pasca panen juga ditentukan oleh tenaga kerja pengangkut. Ini bisa dilihat dari tingginya susut sebagai akibat dari cara pengangkutan yang tidak baik.
Kenapa teknologi pertanian sangat penting untuk pertanian masa depan, contoh yang gampang dilihat adalah kita ekspor biji kopi tetapi kita impor kopi yang sudah di proses dengan teknologi, kita ekspor coklat tetapi kita impor produk coklat. Sudah saatnya kita berorientasi bukan hanya pada kuantitas produksi tetapi juga kualitas produksi termasuk teknologi proses yang mengolah produk pertanian sampai ke tangan konsumen.

Membangun industri yang berbasiskan sumberdaya sendiri, misalnya industri yang berbasis kelapa sawit. Bukan hanya CPO tetapi juga produk turunannya. Sayang kalau hasil penelitian kelapa sawit dan turunannya yang sekarang ini dijadikan tema oleh Ristek tidak ditindaklanjuti dan dijadikan salah satu target oleh pemerintah. Sementara kita masih berkutat dengan angka-angka produksi tetapi tetangga kita sudah lebih jauh meninggalkan. Justru kita membantu mereka dengan mengirimkan tenaga kerja untuk bekerja di perkebunan kelapa sawit yang sebenarnya kitapun membutuhkan mereka untuk membangun persawitan kita.
Kita memang sudah dininabobokan dengan kebijakan impor yang telah mengakibatkan menurunnya untuk meningkatkan daya saing. Sudah sangat jamak kalau ada pejabat datang ke daerah dalam rangka peresmian proyek misalnya, selalu terlontar kata-kata klise bahwa produksi pertanian harus ditingkatkan atau petani harus dingkatkan kesejahteraannya. Tetapi sering lupa, bagaimana mencapai tujuan tersebut.

Pertanian masa depan, adalah pertanian yang berbasiskan teknologi. Target produksi memang penting tapi tanpa ditunjang oleh peningkatan kualitas, tujuan peningkatan daya saing tidak akan tercapai. Bersaing dengan produk impor saja tidak bisa apalagi kalau harus berkompetisi dengan produk negara lain pada saat ekspor. Membangun industri yang berbasiskan sumberdaya alam, jika bahan bakunya masih diimpor, akan sangat riskan. Sektor kelautan yang merupakan potensi besar juga harus dijadikan target pengembangan industri. Tanpa membangun produktivitas, efisiensi dan daya saing yang tinggi, kita akan tak mampu menang dalam persaingan global; bukan saja di pasaran internasional, tetapi juga di pasar dalam negeri sendiri. Jadi kuncinya adalah pada penggunaan teknologi pertanian.

Artikel ilmiah populer : Media televisi dan agroindustri

Media televisi dan agroindustri

Menonton acara televisi Jepang yang sangat beragam merupakan hal yang sangat menarik. Kurang lebih sama dengan program-program acara televisi di tanah air yang juga sarat dengan iklan. Tetapi jika disimak lebih jauh, program-program acara baik berita atau hiburan yang menghiasi di beberapa stasiun televisi baik milik pemerintah maupun swasta, ada banyak pesan yang dapat kita pelajari.

Banyak tayangan-tayangan yang sifatnya memberikan informasi tentang potensi lokal daerah baik yang berupa kondisi masyarakat maupun produk khas daerah yang dikemas dalam bentuk kuis ataupun paket tayangan menarik berupa perjalanan ke daerah yang tidak membosankan yang dibawakan oleh publik figur. Iklan masih tetap dominan mewarnai setiap tayangan, tapi rasanya pemirsa tidak serta merta mengalihkan perhatian karena memang acara dikemas dalam bentuk yang tidak membosankan dan tidak terkesan menggurui.

Bukan hanya paket acara yang bersifat khusus, tetapi juga setiap pagi, informasi ramalan cuaca atau berita pagi yang diliput secara live di sebagian wilayah Jepang banyak yang diambil dengan latar belakang kondisi daerah tertentu sambil menunjukkan dan memberikan informasi produk-produk unggulan di daerah tersebut. Bahkan tak jarang terlihat reporter sedang mencicipi makanan khas tersebut sambil melakukan wawancara sedikit dengan petani atau pembuat produk tersebut.

Hal yang terkesan selintas tetapi karena diselipkan pada acara yang digemari dan ditayangkan pada jam-jam dimana banyak orang melihat, sedikit banyak telah menanamkan image tersendiri bagi para pemirsa dan secara tidak langsung merupakan bentuk pemasaran bagi produk-produk khas di daerah tersebut. Sehingga tak heran kalau kebanyakan orang Jepang akan segera tahu daerah apa menghasilkan apa dan makanan apa yang lezat di tiap-tiap daerah.

Dari tayangan-tayangan ini dapat disimpulkan bahwa televisi Jepang bukan hanya media hiburan semata-mata. Nampaknya televisi Jepang menyadari perannya yang sangat besar dalam sosialisasi dari teknologi sampai dengan agroindustri yang merupakan salah satu tulang punggung perekonomian mereka. Bagaimana menyajikan topik-topik tersebut dengan suasana menyenangkan dan menarik tanpa mengurangi bobot informasi yang disajikan. Bagaimana menyajikan produk-produk agroindustri dalam bahasa mudah dipahami orang awam nampaknya menjadi strategi pemasaran tiap-tiap stasiun televisi. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya iklan yang terselip di tengah-tengah acara.

Bagaimana dengan program memasyarakatkan agroindustri di Indonesia? Dimana peran media informasi khususnya televisi dalam memasyarakatkan produk-produk unggulan tiap-tiap daerah? Sayangnya program-program televisi di tanah air masih didominasi dengan tayangan yang bersifat hiburan baik berupa berita, musik, film ataupun, sinetron. Sedangkan program-program yang bersifat memberikan informasi masing-masing daerah masih didominasi oleh acara-acara seremonial yang terkesan membosankan.

Memang media televisi memerlukan biaya operasional yang cukup tinggi dan perlu dukungan dari iklan. Sehingga paket acara terutama untuk jam tayang yang potensial dikhususkan untuk menggaet iklan dan sangat sedikit program-program yang memberikan peluang pengembangan dan pemasaran produk agroindustri khas daerah.

Mengutip data GAPMMI tahun 2001, untuk agroindusrti olahan pangan saja ternyata sampai dengan tahun 2000 masih tetap survive dalam menghadapi krisis ekonomi. Peranan agroindustri hasil pertanian terhadap pertumbuhan ekonomi nasional khususnya terhadap sektor industri dapat ditunjukkan dari perkembangan jumlah perusahaan industri hasil pertanian menengah dan besar juga semakin bertambah dari 5.375 unit usaha pada tahun 1998 menjadi 5.612 unit usaha tahun 2000 atau secara kumulatip berjumlah sekitar 52.524 pada tahun 1998 menjadi 82.430 pada tahun 2000. Demikian juga nilai produksinya yang tahun 1998 mencapai Rp. 94.568 milyar menjadi Rp. 125.855 milyar pada tahun 2000. Sedangkan jumlah tenaga kerja yang terlibat sebanyak 540.923 orang pada tahun 1988 dan meningkat hingga menjadi 835.000 orang pada tahun 2000.

Dengan demikian, sektor agroindustri sangat potensial untuk menggerakkan roda perekkonomian daerah dan menyerap tenaga kerja. Salah satu kendala pengembangan agroindustri adalah kekurangmampuan dalam memanfaatkan dan memperluas peluang dan akses pasar. Produk agroindustri unggulan daerah biasanya bersifat spesifik daerah dan pasarnya bersifat lokal. Sehingga untuk meningkatkan kuantitas produksi diperlukan promosi. Tetapi kalau sektor agroindustri daerah harus mengiklankan diri sama seperti industri besar akan berat karena terbatasnya modal.

Jika diamati, dewasa ini hampir semua pemerintah daerah dewasa ini sudah memiliki homepage yang berisi informasi produk-produk khas daerah yang bisa diakses dengan mudah. Tetapi karena kondisi masyarakat kita yang masih belum banyak yang bisa mengakses internet, informasi yang disajikan di homepage tidak bisa menjangkau masyarakat secara luas. Media televisi khususnya masih merupakan sarana yang paling efektif untuk memasyarakatkan agroindustri karena jangkauannya yang luas dan sebagian besar masyarakat sudah bisa menikmatinya. Jika televisi Jepang masih bisa menayangkan acara-acara menarik sambil mempromosikan produk-produk unggulan daerah pada jam-jam tayang yang mahal dan mampu menarik pengisi iklan, bagaimana dengan televisi Indonesia? Mungkin kita masih akan menunggu adanya pakar pembuat acara televisi yang mempunyai minat di sektor agroindustri.

Jika acara-acara kuis dewasa ini banyak yang dijadikan acara unggulan di berbagai televisi, semoga tidak lama lagi kita akan melihat sektor agroindustri diselipkan sebagai acara-acara kuis di program acara televisi di tanah air. Bagaimanapun juga agroindustri perlu kita dukung semua agar produk-produknya dikenal luas di tanah air atau bahkan di luar negeri agar bisa bersaing dengan produk impor yang dewasa ini gencar masuk ke tanah air yang pada akhirnya dapat memberikan peluang berusaha di daerah.

Artikel ilmiah populer : Larangan impor beras dan kesejahteraan petani

Larangan impor beras dan kesejahteraan petani

Awal tahun ini pemerintah melalui Surat Keputusan (SK) Menperindag Nomor9/MPP/Kep/1/2004 mengeluarkan ketentuan larangan impor beras satu bulan sebelum, saat, dan dua bulan setelah panen raya dengan tujuan untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani beras. Larangan impor beras akan berlaku sekitar empat bulan, yaitu sebelum, saat, dan dua bulan sesudah panen raya atau angka tertinggi produksi beras di Indonesia, jadi sekitar Februari sampai Mei.

Keberadaan beras impor selama ini dihadapkan pada dua sisi kepentingan. Di satu sisi, impor dilakukan untuk mencukupi kebutuhan pangan dan cadangan pangan, menjaga keseimbangan antara pasokan dari petani dan kebutuhan dan mengatasi lonjakan harga beras. Dari sisi konsumen, keberadaan beras impor menguntungkan karena variasi barang dan harga menjadi lebih banyak. Jika pada awalnya beras impor dicari karena harganya yang murah, kini beras impor dengan kualitas bagus dan harga tinggi juga digemari masyarakat. Dari sisi petani, keberadaan beras impor dipandang sebagai saingan bagi petani untuk mempertahankan harga jual beras produksinya. Hal ini terbukti dengan banyaknya suara-suara petani dari daerah yang menentang masuknya beras impor ke daerah mereka. Dampak bagi petani akan semakin terasa ketika beras impor masuk dengan deras saat terjadi panen yang bisa mengakibatkan jatuhnya harga gabah kering giling (GKG) di tingkat petani.

Kehadiran beras impor dapat dipahami sepanjang tujuannya dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan yang tidak mampu dicukupi oleh produksi dalam negeri. Tetapi karena kondisi harga beras di pasar internasional yang harganya lebih rendah dibandingkan dengan harga di dalam negeri sedangkan bea masuk yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp 430,- masih memberikan peluang penyelundupan bagi pelaku impor beras, maka beras selundupan masih marak dijumpai.

Kebutuhan beras Indonesia selama kurun waktu 5 tahun dari tahun 1996 sampai dengan 2001 mengalami kenaikan dari 25.6 juta ton menjadi 27.4 juta ton. Artinya ada peningkatan sebesar 1.8 juta ton atau sekitar 6.9% dalam waktu lima tahun tersebut. Sekalipun dilihat dari konsumsi per kapita sesungguhnya konsumsi beras relatif stabil, yaitu antara 131 dan 132 kg. Sebagai perbandingan konsumsi beras rata-rata dunia tahun 2000 sebesar 106.5kg sedangkan Jepang 64.6kg. Peningkatan konsumsi beras tiap tahun lebih dikarenakan oleh peningkatan jumlah penduduk. Untuk mencukupi kebutuhan beras yang meningkat tiap tahun, selama ini Indonesia mengimpor beras sekitar 1.8 sampai 2.0 juta ton per tahun.

Adanya keputusan larangan sementara impor beras ini perlu dijaga momentumnya agar dilanjutkan dengan keputusan dan kebijakan-kebijakan lain yang bertujuan untuk melindungi petani. Sehingga diharapkan pemerintah tidak hanya terjebak pada mekanisme perdagangan beras semata, tetapi juga tetap memperjuangkan insentif bagi petani dan akses terhadap lahan dalam meningkatkan produksi. Langkah-langkah mencegah kemiskinan pedesaan juga perlu terus dilakukan agar dunia pertanian ditempatkan sebagai lapangan kerja yang menarik dan prospektif. Dengan demikian, petani pun betah mengerjakan sawahnya dan lahan garapan mereka tidak dijual.

Berkaitan dengan tingkat kesejahteraan petani, data BPS menunjukkan bahwa tingkat kesejahteraan petani naik 3.93 persen selama bulan Oktober 2003 dibandingkan bulan September 2003. Hal ini didasarkan dari indeks Nilai Tukar Petani (NTP) sebesar 119.29 naik dari 114.78. Yang menjadi perdebatan adalah apakah indikator ini mencerminkan kondisi riil bahwa sudah ada peningkatan kesejahteraan atau taraf hidup petani Indonesia? Ini harus dibuktikan mengingat selama satu dekade terakhir jumlah petani gurem di Indonesia bertambah banyak. Jika pada 1993 persentase petani gurem dibandingkan jumlah keseluruhan petani di Indonesia di bawah 50 persen, maka pada 2003 persentase tersebut naik menjadi lebih dari 53 persen. Jumlah petani gurem kini lebih banyak dibandingkan tahun 1993, yang berjumlah 20 juta rumah tangga petani. Artinya, semakin banyak orang yang bergantung pada sektor pertanian, termasuk yang tadinya bekerja di sektor informal terpaksa beralih menjadi kuli di pertanian.

Pemerintah telah mencanangkan tahun 2004 sebagai Tahun Padi Nasional. Dengan begitu berbagai kegiatan tahun 2004 ini akan difokuskan untuk memberdayakan petani padi yang ada di seluruh tanah air. Pencanangan Tahun Padi Nasional itu berkaitan erat dengan upaya pemerintah untuk menyukseskan program ketahanan pangan nasional karena sampai saat ini Indonesia masih mengimpor beras. Program pemberdayaan petani yang merupakan salah satu target Tahun Padi Nasional ini hendaknya tidak hanya terpaku pada angka-angka kenaikan secara statistik saja tetapi juga harus secara riil di lapangan.

Pertama, peningkatan kemampuan akses petani ke lahan pertanian sehingga petani memiliki aset yang bisa ia manfaatkan untuk kesejahteraannya. Tidak seperti sekarang di mana petani hanya menjadi kuli tanpa punya aset lahan yang bisa digarap.

Kedua, menaikkan bea masuk beras pada angka yang reasonable sehingga kehadiran beras impor tidak mengganggu harga beras dalam negeri. Kenaikan bea masuk beras harus diimbangi dengan pengawasan yang ekstra ketat terhadap masuknya beras secara ilegal dan diikuti dengan sangsi hukum yang tegas bagi yang melanggar. Karena jatuhnya harga beras lebih banyak dimungkinkan oleh maraknya beras selundupan yang menurut data Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) tercatat 40 persen dari total beras impor yang masuk selama 2000-2003 ke Indonesia. Pengenaan bea masuk beras sebesar 30 persen masih cukup rendah jika dibandingkan dengan Thailand 120 persen, Cina 150 persen, Jepang 400 persen. Penerapan bea masuk impor yang tinggi diharapkan dapat merangsang naiknya harga beras di dalam negeri, yang akhirnya mendorong petani untuk meningkatkan produksi karena hasil panen mereka dinilai menguntungkan.

Ketiga, kebijakan buka tutup keran impor yang diusulkan oleh Bulog dapat segera ditindaklanjuti. Hal ini umum dilakukan oleh negara-negara lain untuk melindungi petaninya dari serbuan produk-produk luar negeri. Contohnya Jepang yang melaksanakan impor produk pertanian secara ketat dengan pengaturan buka tutup untuk melindungi petaninya disamping bea masuk yang tinggi.

Keempat, pengembangan rice estate yang merupakan kelompok petani yang mirip dengan sistem corporate farming yang beberapa waktu lalu sempat ramai diperbincangkan sangat mungkin untuk digali kembali. Rice estate yang dapat dilaksanakan sebagai kelompok petani yang didalamnya mengelola satu unit pengolahan padi dan mampu menghasilkan produk akhir beras dengan kualitas yang baik dengan bantuan teknologi pengolahan beras, dapat dikembangkan di sentra-sentra produksi beras. Pengelompokan petani ditujukan untuk membuat pengolahan lahan dan penanganan pasca panen menjadi lebih efisien. Sedangkan adanya unit pengolahan beras yang dikelola secara kelompok dapat meningkatkan margin keuntungan yang diperoleh. Hanya saja penerapannya masih perlu didiskusikan untuk mencari bentuk dan manajemen yang paling sesuai supaya tidak terhenti di tengah-tengah jalan.

Artikel ilmiah populer : Menunggu gebrakan sektor pertanian setelah selesainya program 100 hari

Menunggu gebrakan sektor pertanian setelah selesainya program 100 hari

Program 100 hari sektor pertanian yang dikomandio oleh Menteri Pertanian telah berlalu, hasilnya bisa dilihat dari langkah dan kebijakan apa yang telah dikerjakan di sektor pertanian. Tiga target utama yang disampaikan Menteri Pertanian adalah peningkatan kesejahteraan petani, ketahanan pangan dan peningkatan daya saing. Meskipun sebenarnya ketiga-tiganya juga merupakan target dari menteri-menteri pertanian terdahulu, namun karena adanya patokan waktu 100 hari dari pemerintahan yang baru, merupakan hal yang patut ditunggu-tunggu apa langkah nyata yang akan diambil pemerintah dalam rangka mewujudkan ketiga target tersebut terutama dalam 100 hari pertama.

Untuk target ketahanan pangan, hasil yang telah dicapai oleh pemerintah sebelumnya cukup menggembirakan, hal ini ditandai dengan data ramalan BPS untuk produksi padi padi tahun ini yang diperkirakan sebesar 54 juta ton gabah kering giling (GKG). Dengan produksi sebesar ini akan mampu memenuhi kebutuhan pangan 218 juta jiwa dengan konversi beras sekitar 60 % dan konsumsi per kapita sebesar 139 kg per kapita/tahun, bahkan diperkirakan akan surplus sekitar 2 jutaan. Tetapi, masih relevankah kuantitas dijadikan orientasi pembangunan pertanian? Kuantitas memang masih diperlukan, mengingat Indonesia yang pada dekade 1980-an berhasil melakukan swasembada beras, meski kini malah menjadi negara pengimpor. Tetapi peningkatan produksi yang melebihi konsumsi tersebut apakah diikuti dengan peningkatan kesejahteraan petani, masih perlu dibuktikan lagi.

Sinyaleman yang ada dari dulu adalah bahwa Pemerintah dinilai tidak pernah berpihak serius pada sektor pertanian khususnya dalam hal meningkatkan kesejahteraan petani dan meningkatkan daya saing produk. Meskipun pemerintahan telah berganti-ganti, tidak pernah tampak perubahan yang berarti pada kesejahteraan petani. Kebijakan makro ke arah strategi pembangunan berbasis sektor pertanian tidak menunjukkan tanda-tanda yang jelas. Tekanan ekonomi yang tinggi telah mengakibatkan tersingkirnya petani kecil di pedesaan dalam bentuk migrasi dari pedesaan ke perkotaan menjadi tenaga kerja kasar.

Secara umum sektor pertanian sampai saat ini masih memberikan kontribusi yang besar terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB). Perbandingan peranan antarsektor ekonomi menunjukkan hampir separuh (42,48 persen) PDB Indonesia berasal dari sektor pertanian dan sektor industri pengolahan pada kondisi harga berlaku tahun 2002. Kedua sektor itu masing-masing memberi kontribusi 17,47 persen dan 25,01 persen. Dalam hal jumlah orang yang bekerja di sektor pertanian pun, menunjukkan bahwa dari data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), November 2003, dari 88,1 juta orang yang bekerja, sebanyak 46,6 persen atau 41.054.600 penduduk berada di sektor pertanian. Sementara di sektor industri terdapat 11,4 persen atau 10.043.400 orang yang bekerja. Pada tahun 1998 dari 87.672.449 penduduk yang bekerja, sebanyak 39.414.765 penduduk bekerja di sektor pertanian dan 9.933.622 penduduk di sektor manufaktur.

Masalah mendasar sektor pertanian adalah luas dan status penguasaan lahan. Dengan demikian, penataan sistem dan alokasi sumber-sumber agraria sangat penting, yaitu dengan mengagendakan land reform dalam strategi pembangunan pertanian. Hasil Sensus Pertanian tahun 2003 menunjukkan, persentase rumah tangga petani gurem terhadap rumah tangga pertanian pengguna lahan terus bertambah menjadi 56,5 persen dari sebelumnya 52,7 persen pada tahun 1993. Di Pulau Jawa, petani gurem meningkat dari 69,8 persen pada 1993 menjadi 74,9 persen pada 2003. Selain itu, tingkat konversi lahan pertanian diperkirakan sekitar 30.000 per tahun.

Beberapa waktu yang lalu sempat muncul ide penerapan corporate farming, yaitu kegiatan penggabungan lahan usaha tani (dalam satu komoditas) untuk dikelola secara bersama oleh petani dan terpadu dalam satu manajemen layaknya suatu farm estate. Dalam kegiatan itu, pemerintah misalnya melalui badan usaha milik daerah dapat menyewa lahan petani yang telah digabungkan dalam skala luasan tertentu. Lahan petani gurem yang umumnya hanya seperempat hektar digabung, misalnya hingga 20 hektar, lalu pemerintah menyewanya. Setiap petani memiliki saham atas lahan seperempat hektar itu dan menerima sewa sesuai standar harga yang berlaku. Petani atau buruh tani yang tetap melakukan usaha tani kemudian menjadi karyawan farm estate tersebut. Karena berperan sebagai karyawan perusahaan, hak dan kewajiban petani bisa diatur lebih formal.

Dengan corporate farming diharapkan dapat tercapai suatu skala ekonomis yang memiliki efisiensi pengelolaan yang tinggi. Penggunaan sarana teknologi produksi juga lebih ekonomis dan terjadi efisiensi posisi tawar-menawar yang kuat terhadap berbagai pihak. Hal yang menjadi kendala dari penerapan corporate farming ini adalah adanya kepastian hukum untuk lahan yang telah disewakan pemiliknya. Mestinya jika itikad baik untuk mensejahterakan petani dan ini bisa ditunjukkan dengan hasil nyata, penolakan akan ide ini akan semakin berkurang. Gagasan dan terobosan baru yang lain dalam hal penataan dan penguasaan lahan pertanian bagi petani sangat diperlukan untuk menciptakan sistem pertanian yang efisien dan produktif.@Karena penguasaan lahan ini akan berpengaruh terhadap daya saing produk yang dihasilkan.

Sektor agro dan hasil hutan yang selama ini dianggap memiliki tingkat ketergantungan impor rendah, justru merupakan sektor yang paling lemah daya saingnya untuk bertarung di kawasan perdagangan bebas ASEAN (AFTA). Sementara produk domestik yang dinilai memiliki daya saing tinggi baru mencapai 46 persen dari 8.296 produk yang siap untuk dipertarungkan di AFTA. Disamping itu, kelemahan juga dipicu oleh tidak adanya kebijakan pemerintah yang memberikan dukungan yang optimal terhadap sektor pertanian. Dalam sidang WTO di Doha tahun 2001, untuk sektor pertanian diputuskan memperluas akses pasar bagi negara anggota WTO dan penghapusan subsidi, serta meningkatkan non-tariff barrier. Jika ini diterapkan, kontribusi sektor pertanian terhadap perekonomian akan menjadi sangat kecil dan persaingan dengan produk impor akan semakin tinggi akibatnya kerja keras harus dilakukan untuk meningkatkan daya saing produk dalam negeri melalui perbaikan kualitas dan eifisiensi produksi.

Tata niaga juga harus diperhatikan, karena dari beberapa hasil studi yang penulis lakukan, bahwa tata niaga pertanian di Indonesia banyak yang dikuasai oleh para tengkulak. Sehingga petani sulit sekali bisa menembus pasar secara langsung tanpa melalui para tengkulak. Kalaupun bisa, harga jual akan dipermainkan dan karena produk pertanian tidak bertahan lama, akhirnya petani menjadi rugi.

Dengan tidak adanya lagi acuan dalam bentuk GBHN, maka alangkah baiknya jika pembangunan pertanian ke depan dirumuskan dalam bentuk blue print yang dijabarkan secara rinci target yang akan dicapai dalam jangka pendek, menengah, dan panjang. Setelah itu, setiap instansi teknis diwajibkan melakukan tugas sesuai kapasitas masing-masing, saling mendukung dan tetap terkoordinasi. Dengan demikian arah pembangunan pertanian akan selalu sesuai dengan target yang telah ditetapkan untuk mencapai ketahanan pangan, meningkatkan daya saing dan kesejahteraan petani. Yang pada akhirnya dapat mengangkat profesi petani sejajar dengan profesi-profesi lainnya yang dapat menjadi jaminan masa depan pelakunya. Hal ini penting karena jika profesi petani bisa menjadi andalan secara ekonomi, maka minat generasi muda terdidik untuk terjun ke profesi pertanian akan mempercepat berkembangnya sektor pertanian dalam menyerap teknologi dan inovasi yang akhirnya akan berdampak terhadap peningkatan kualitas dan kuantitas dari produk yang dihasilkan.

Artikel ilmiah populer : Kehilangan pasca panen padi kita masih tinggi

Kehilangan pasca panen padi kita masih tinggi

Keberhasilan sektor pertanian nampaknya saat ini masih dipandang sebagai keberhasilan jumlah produksi, sehingga pencapaian target-target produksi masih menjadi prioritas pemerintah. Bahkan penilaian kesuksesan di sektor pertanian lebih dikaitkan dengan tingkat produktivitas dan sejauh mana kemampuan menyediakan kebutuhan pangan masyarakat. Keberhasilan yang telah diraih pada tahun 2004, dimana produksi beras mengalami surplus, dengan produksi gabah yang mencapai 54,34 juta ton, jumlah beras yang diproduksi adalah 34 juta ton. Kebutuhan beras di dalam negeri tercatat 31 juta ton per tahun, sehingga terjadi surplus 3 juta ton. Tahun sebelumnya, produksi beras nasional mencapai 33,9 juta ton, sementara total kebutuhan beras domestik sekitar 29 juta ton. Dengan keberhasilan ini bisa dikatakan bahwa Indonesia telah mencapai target swasembada beras, sehingga tidak perlu mengimpor beras karena pasokan beras yang ada masih mencukupi kebutuhan beras nasional.¡¡

Persoalannya justru muncul setelah menginjak tahun 2005, dimana setelah diributkan dengan permasalahan subsidi pupuk, Bulog mengisyaratkan harga beras bakal naik tahun ini. Penyebabnya adalah stok beras dalam negeri diperkirakan tidak memenuhi target produksi akibat musim kering yang diperkirakan akan panjang tahun ini. Akibatnya target cadangan beras Bulog sebanyak 2,25 juta ton diperkirakan hanya terpenuhi 2 juta ton. Hal ini kembali menegaskan bahwa kita masih tidak berdaya menghadapi kondisi alam yang sebenarnya sudah bisa diantisipasi sebelumnya. Kenyataan membuktikan bahwa sektor pertanian khususnya padi masih sangat rentan terhadap perubahan alam. Kalau kita amati fluktuasi produksi padi setiap tahun yang naik turun, sudah seharusnya pemerintah memberikan perhatian lebih untuk mengamankan target produksi melalui program-program yang mendukung peningkatan produktivitas sektor pertanian. Diantaranya adalah pembangunan dan pemeliharaan jaringan irigasi, penyediaan pupuk dalam harga yang memadai, serta pemanfaatan teknologi pertanian secara tepat guna secara lebih intensif.

Terlepas dari masalah klasik yang dihadapi oleh sektor pertanian padi setiap tahun yaitu kekeringan dan banjir, penanganan panen dan pascapanen memiliki kontribusi besar dalam mengamankan produksi nasional. Data¡¡menunjukkan bahwa selama ini tingkat kehilangan pada mata rantai kegiatan ini masih tinggi. BPS menyebutkan kehilangan hasil panen dan pasca panen akibat dari ketidaksempurnaan penanganan pasca panen mencapai mencapai 20,51%, dimana kehilangan saat pemanenan 9,52%, perontokan 4,78%, penggilingan 2,19% dan pengeringan 2,13%. Angka kehilangan dari data BPS, jika dikonversikan terhadap produksi padi nasional diperkirakan nilai kerugian lebih dari Rp15 triliun.

Merujuk data FAO, prosentase kehilangan pasca panen padi berkisar antara 10 sampai 37 persen¡¡dengan rata-rata kehilangan di negara berkembang antara 15 ¨C 16 %. Berdasarkan patokan angka rata-rata kehilangan pasca panen ini, tingkat kehilangan pasca panen kita masih mungkin untuk bisa diturunkan dari angka 20.51%. Besarnya penyusutan terjadi kemungkinan dikarenakan sebagian besar petani Indonesia masih menggunakan cara-cara tradisional. Melihat kondisi tersebut, maka tidak ada pilihan lagi bagi pemerintah untuk lebih mengupayakan modernisasi sektor pertanian. Modernisasi bukan berarti harus menggunakan peralatan yang berteknologi tinggi, tapi lebih diarahkan untuk menerapkan teknologi yang tepat guna dalam hal proses penanganan pasca panen baik melalui penggunaan alat mekanis atau penerapan cara penanganan pasca panen yang baik dan benar. Penanganan pasca panen yang baik dan benar bukan hanya dapat mengurangi susut secara kuantitas tetapi juga secara kualitas.

Beberapa program yang perlu diintensifkan adalah peningkatan penggunaan peralatan mekanis seperti alat panen dan perontok untuk mengurangi kehilangan butiran gabah yang tercecer jika menggunakan cara-cara tardisional. Proses pengeringan gabah merupakan tahapan yang kritis dalam mata rantai penanganan pasca panen. Dibandingkan dengan metode pengeringan yang dilakukan di lantai jemur, alat pengering buatan mempunyai beberapa keunggulan antara lain areal yang diperlukan tidak luas dan biaya operasional bisa dihemat. Hal yang terpenting adalah tidak bergantung pada cuaca, terutama jika musim panen raya bertepatan dengan musim hujan.

Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil pengeringan dengan alat pengering buatan dapat menghasilkan beras dengan tingkat kerusakan secara kuantitas dan kualitas yang lebih rendah dan waktu pengeringan menjadi lebih singkat. Tahap proses pengeringan ini merupakan tahapan yang kritis karena keterlambatan proses pengeringan akan berakibat terhadap rusaknya gabah. Kondisi riil di lapangan sering dijumpai bahwa adanya perbedaan kadar air gabah sangat berpengaruh sangat nyata terhadap harga jual gabah. Sehingga jika petani tidak cepat melakukan proses pengeringan, susut kuantitas dan kualitas akan menjadi tinggi. Persoalannya justru seringkali marjin keuntungan dari proses pengeringan ini yang seharusnya bisa dinikmati oleh petani malah dinikmati oleh pedagang dikarenakan minimnya pengertahuan petani dan ketidaktersediaan sarana pengeringan terutama pada saat panen yang betepatan dengan musim hujan. Beberapa tempat penggilingan padi yang sudah tua juga menyumbang angka tingkat susut panen yang tinggi. Angka konversi gabah ke beras sangat ditentukan oleh proses penggilingan dan alat penggiling padi yang berkisar antara 60 sampai 68%.

Tetapi penggunaan alat-alat tersebut membutuhkan biaya yang mahal, karena itu partisipasi pihak swasta sangat diharapkan untuk membantu pemerintah dengan melakukan investasi di bidang ini. Sebagai timbal baliknya, pemerintah juga perlu lebih mengkampanyekan penanganan pasca panen yang baik, sampai usaha ini mendapat respon yang baik dari petani. Untuk itu aparat terkait harus mau terjun langsung ke lapang untuk melihat persoalan secara riil di lapangan dan segera dapat mencarikan solusi yang tepat. Kegiatan tersebut diharapkan dapat merangsang instansi lain untuk terlibat dan memberikan kontribusi yang sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Kalangan swasta diharapkan akan terjun dan berinvestasi di sektor pengolahan pasca panen.

Pada dasarnya petani Indonesia mempunyai potensi yang memadai. Sayangnya, potensi diri ini tidak dikelola dengan baik. Disamping tidak menyadari ada penyusutan besar pada kegiatan panen dan pasca panen. Jika tingkat kehilangan panen bisa ditekan sampai minimal 0,5%-1% untuk setiap kegiatan pasca panen dan secara bertahap dapat dikurangi antara 3%-5%, jika prosentase ini dikalikan dengan¡¡total produksi berarti bisa dihemat sekitar 1,59- 2,65 juta ton. Suatu jumlah yang sangat besar dan mungkin dapat menjawab kekhawatiran Bulog karena tidak tercapainya target cadangan beras bukan hanya untuk saat ini tetapi juga untuk tahun-tahun mendatang.

Artikel Ilmiah populer: Meningkatkan kesejahteraan petani, dimulai dari mana?

Meningkatkan kesejahteraan petani, dimulai dari mana?

Harus diakui bahwa swasembada beras pada tahun 1984 adalah prestasi yang luar biasa karena dicapai setelah bangsa kita termasuk negara pengimpor beras terbesar di dunia sebelumnya. Meksipun setelah itu produksi beras nasional belum bisa stabil dan mengalami kenaikan atau penurunan sampai akhirnya tahun 2004 kembali kita mengalami surplus produksi beras sekitar 3 juta ton. Memasuki tahun 2005 kembali kita diributkan tentang subsidi pupuk dan ramalan Bulog mengenai kemungkinan tidak tercapainya cadangan beras dikarenakan adanya perkiraan musim kemarau yang panjang tahun ini. Nampaknya harus diakui bahwa sebagian energi kita masih terfokus pada persoalan tercapai atau tidaknya target produksi beras. Akar permasalahan yang menyertai tercapai atau tidaknya produksi beras masih belum tersentuh secara sungguh-sungguh. Karena sudah jamak kita dengar bahwa setiap pemerintah menaikkan harga dasar pembelian beras, akan selalu diikuti oleh harap-harap cemas dikeluarkannya kebijakan lain yang sering mengurangi marjin keuntungan yang dapat diperoleh petani padi. Untuk itu adanya perubahan paradigma seperti yang diungkapkan oleh Mentan bahwa dalam membangun pertanian tidak hanya bertumpu pada target produksi tetapi juga meningkatkan kesejahteraan pelakunya, patut ditunggu realisasinya..

Selama ini dalam menentukan tingkat kesejahteraan petani apakah naik atau turun hanya berpatokan pada angka produksi beras nasional, harga dasar gabah, subsidi pupuk, harga saprotan yang diformulasikan kedalam nilai tukar petani (NTP). NTP merupakan perbandingan antara indeks nilai tukar yang diterima petani dengan indeks yang harus dibayar petani dan digunakan sebagai salah satu indikator ekonomi untuk mengukur tingkat kesejahteraan atau daya beli petani. Jika nilai NTP 100 berarti petani hanya impas. Jika nilai NTP di bawah 100, berarti petani tekor alias kesejahteraan menurun dibandingkan pada tahun dasar. Sebaliknya, petani baru sejahtera atau mendapatkan keuntungan jika nilai NTP berada di atas 100.

Sebagai gambaran, BPS mencatat pada bulan November 2004 nilai tukar petani sebesar 100,58 atau turun 0,15 persen dibandingkan dengan NTP pada Oktober 2004 yang mencapai 100,73. Penurunan NTP terjadi pada hampir setiap tahun khususnya setiap panen raya. Meskipun setiap tahun pemerintah menaikkan harga dasar gabah, namun tetap tidak berpengaruh terhadap peningkatan kesejahteraan petani. Hal ini disebabkan, setiap kenaikan harga dasar selalu diikuti kenaikan harga pupuk dan sarana produksi lainnya. Akibatnya ongkos produksi juga meningkat. Mengapa pupuk yang merupakan sarana utama peningkatan hasil produksi pertanian selalu naik, tidak lain karena produksi pupuk masih disubsidi pemerintah. Sehingga untuk mengurangi subsidi, pemerintah mengambil kebijakan menaikkan harga dasar pupuk.

Jika kebijakan pemerintah masih berorientasi pada produksi seperti yang dapat kita lihat untuk komoditi beras, rasanya masih diperlukan waktu yang lebih lama lagi untuk bisa meningkatkan kesejahteraan petani. Selama ini hitung-hitungan selalu dimulai dari menaikkan harga dasar gabah yang kemudian diikuti oleh permasalahan subsidi pupuk dan diakhiri dengan pernyataan bahwa ada selisih harga yang akan diterima oleh petani sehingga kesejahteraan akan meningkat. Itu semua adalah hitung-hitungan di atas kertas dan kenyataannya tetap saja kita lihat bagaimana tingkat kesejahteraan petani pada kenyataannya.

Hasil kajian yang pernah dilakukan untuk biaya produksi padi di Jawa Tengah periode Maret-April 2002 menunjukkan bahwa ternyata menanam padi kurang memberi keuntungan bagi petani di pedesaan. Hasil hitung-hitungan yang didapat dari perhitungan biaya produksi per hektar dalam sekali masa tanam per hektar adalah Rp 3.790.000, atau Rp 7.580.000 setahun dua kali tanam, ditambah sewa sawah per hektar sekitar Rp 6 juta. Dari perhitungan biaya produksi Rp 7.580.000 ditambah sewa lahan Rp 6 juta, petani mengeluarkan biaya seluruhnya Rp 13.580.000. Sedangkan pendapatan petani dari hasil panen 12 ton yang dijual per kilogram Rp 1.100 menghasilkan Rp 13.200.000. Jumlah tersebut dikurangi biaya produksi terdapat selisih kerugian Rp 380.000 per musim tanam. Perkiraan angka ini mungkin akan berbeda untuk daerah lain dan sudah berubah untuk perkiraan saat ini, tetapi taksiran angka tersebut bisa jadi tidak banyak beberbeda karena kalau diamati setiap tahun kenaikan harga dasar beras selalu diikuti dengan kenaikan harga sarana produksi padi sebagai akibat dari kenaikan BBM atau pengurangan subsidi pupuk.

Meskipun hitung-hitungan secara kasar ini masih layak untuk diperdebatkan, tetapi sedikitnya dapat memberi gambaran bahwa keuntungan yang dapat diperoleh dari menanam padi bisa jadi sangat kecil dan sangat rentan terhadap setiap kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Bagaimana kalau hitung-hitungan tersebut dibalik, sebenarnya berapa tingkat penghidupan yang seharusnya diterima petani untuk bisa hidup layak? Jika buruh ada hitung-hitungan upah minimum regional, kenapa tidak ada hitung-hitungan untuk petani?. Dari hitung-hitungan tersebut, dapat dibuat skenario-skenario yang dapat ditempuh untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Seperti misalnya berapa hektar penguasaan lahan yang layak untuk petani supaya bisa hidup dengan standar hidup minimum atau berapa harga beras yang memberi keuntungan pada petani beras. Dari situ nantinya akan bisa dikelompokkan berapa persen petani yang dapat hidup dengan layak dan berapa persen yang sebaliknya. Selanjutnya akan diketahui program apa yang layak dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan sebagian petani yang belum tercukupi dari hasil lahannya.

Hal yang perlu diingat bahwa sektor pertanian menghidupi sebanyak 46,6 persen atau 41.054.600 penduduk dari 88,1 juta orang yang bekerja (BPS, November 2003). Sedangkan penguasaan lahan pertanian secara nasional per rumah tangga petani adalah 0,83 ha. Dengan perincian di luar Jawa 1,19 ha sedangkan di Jawa 0,47 ha. Bahkan jumlah petani yang hanya menguasai lahan kurang dari 0,1 ha tercatat 10,94 juta orang. Jumlah tersebut merupakan 51,7 persen dari 21,18 juta rumah tangga tani di negara kita (Sensus Pertanian 1993). Nah sekarang tinggal bagaimana pemerintah meramu antara pencapaian target produksi untuk ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan petani khususnya petani padi.

Saturday, August 06, 2005

Profile


Y. ARIS PURWANTO
Department Agricultural Engineering
Faculty of Agricultural Technology
Bogor Agricultural University
Kampus IPB DarmagaPO Box 220 Bogor 16002 Indonesia
Email : arispurwanto@ipb.ac.id



Date of birth : March 7, 1964
Place of birth : Magetan, East Java, Indonesia

Educational Background

Bsc. in Agricultural Engineering Bogor Agricultural University, Indonesia(1982-1986)
M.Sc. in Biological and Environmental Engineering University of Tokyo, Japan (1995-1997)
Ph. D. in Biological and Environmental Engineering University of Tokyo, Japan (1997-2000)

One year Individual Training on Agricultural Engineering University of Tokyo, Japan(1992)
Research Student in Biological and Environmental Engineering University of Tokyo, Japan (1994-1995)
Postdoctoral Research in Postharvest Engineering University of Tokyo, Japan (2003-2005)

Work Experiences
1988 - present: Lecturer at Department of Agricultural Engineering IPB
2000 - present: Researcher at Center for Research on Engineering Application in]
Tropical Agricultural (CREATA), LP-IPB
2001 - 2003 : Deputy Director for Information System at Center for Research on
Engineering Application in Tropical Agricultural (CREATA), LP-IPB
2000 - 2003 : Ketua Komisi Kerjasama Jurusan Teknik Pertanian, Fateta IPB
2002 - 2003 : Manajer Administrasi dan Keuangan, FTechnopark, Fateta, IPB
2002 - 2003 : Sekretaris Eksekutif Program Pasca Sarjana Program Studi Ilmu
Keteknikan Pertanian, Fakultas Pasca Sarjana, IPB
2006 - Sekarang : Kepala Divisi Pemanasan Global, Pusat Penelitian Lingkungan Hidup IPB

Scholarship Award
1. Departemen P&K (1980 - 1982)
2. Yayasan Toyota Astra (1985 - 1986)
3. JICA (1992)
4. Mombusho, Japan (1994 - 2000)
5. JSPS Postdoctoral Fellowship for Foreign Researcher, Japan (2003-2005)

Keanggotaan Profesi
1. Perhimpunan Teknik Pertanian Indonesia (PERTETA), 1989 – sekarang
2. Japanese Society for Agricultural Machinery (JSAM), 1994 – 2000
3. Japanese Society of Chemical Engineering (JSCE), 1996 – 2000
4. Indonesian Agricultural Sciences Association (IASA) 1997 – sekarang
5. Perhimpunan Pelajar Indonesia di Jepang (PPI) 1994 - 2005

Organisasi
1. Anggota Dewan Penasehat Indonesian Agricultural Sciences Association (IASA) 2005-present 2. Sekretaris Penitia Pembangunan Information Window Fateta IPB 2002-20
3. Person in Charge (PIC) Kerjasama dengan Alumni Proyek Due-Like Departemen TEP 2001-2003
4. Sekretaris Perhimpunan Teknik Pertanian Indonesia (PERTETA) Cabang Bogor 2001–2003
5. Sekretaris Pelaksana International Seminar CIRERD I Bali 2001
6. Ketua Dewan Redaksi Majalah Inovasi PPI Jepang (1998-2000)
7. Ketua I Indonesian Agricultural Sciences Association (IASA) Japan (1998 – 1999)
8. Ketua Bidang Olahraga PPI Kanto Japan (1998-1999)
9. Ketua PPI Komisariat University of Tokyo Japan (1998-1999)
10. Sekretaris Pelaksana Konggres Perteta 1994 Bogor

Teaching
1. Sifat keteknikan air dalam sistem biologik (S2/S3) 2001 – 2003
2. Seminar (S1) 2001 – 2003
3. Termodinamika dan pindah panas (S1) 2002 – 2003
4. Matematika Teknik (S1), 1990 – 1994, 2000 – 2003
5. Teknik Pendinginan (S1, S2), 1990 – 1994, 2000 – 2003
6. Penerapan komputer lanjutan (S1), 1994
7. Energi dan Listrik Pertanian (S1), 1991 – 1994
8. Statika Dinamika (S1), 1991 – 1994
9. Penerapan komputer (S1), 1991

Training
Peserta
1. Postharvest of paddy and rice processing, Satake corp, Hiroshima, Japan, July 11-12, 2005
2. Special English Course for Indonesian Official, RELC Singapore, Nov – Dec 2000
3. Program pengembangan ketrampilan dasar teknik instruksional (Applied Approach), Bogor, 3 – 8 Juli 2000
4. Japanese Intensive course, Tokyo, April – September 1994
5. Pre Overseas Penerima Beasiswa Monbusho, Bogor Okt 1993 – Pebr 1994
6. Training on Post Harvest of Fruits and Vegetables, Bogor, May 10-15, 1993
7. Pelatihan penulisan naskah program TV/Video Instruksional, Bogor, 8 – 13 Pebruari 1993
8. Individual training on Agricultural Engineering, University of Tokyo, JICA Tokyo, January – December 1992
9. Pelatihan Lanjut Bidang Keteknikan Pertanian JICA-DGHE/IIPB Project: JTA – 9a(132): 17-29 Juli 1989, Bogor

Instruktur
1. Pengembangan Agroindustri pengolahan produk pangan, kerjasama dengan Badan Ketahanan Pangan Jawa Tengah, Bogor, 2002
2. Third Country Training Program on Agricultural Engineering and Technology in the Developing Countries: Drying, Cooling and Renewable Energy: Renewable Energy for Thermal Processes of Agricultural products, Bogor, 1 – 30 Agustus 2002
3. Pengembangan agroindustri pengolahan produk pangan, kerjasama dengan Pemda Kabupaten Batang, Jateng, 2002
4. Aplikasi Teknologi Hidroponik untuk Pengembangan Agrisbisnis Perkotaan, Bogor, 28 Mei – 7 Juni 2002
5. Aplikasi Teknologi Hidroponik untuk Pengembangan Agrisbisnis Perkotaan, Bogor, 1 – 12 Oktober 2001
6. Third Country Training Program on Agricultural Engineering and Technology in the Developing Countries: Post Harvest Technology, September 2002
7. Optimasi Sistem Pengering Berenergi Surya, Bogor, 21 – 24 1993
8. Pelatihan Lanjut Bidang Keteknikan Pertanian JICA-DGHE/IIPB Project: JTA – 9a(132): 19 – 31 Agustus 1991, Bogor
9. Pelatihan Lanjut Bidang Keteknikan Pertanian JICA-DGHE/IIPB Project: JTA – 9a(132): 18 Peb – 2 March 1991, Bogor

Research interest
1. Chilling injury in agricultural products
2. Quality evaluation of agricultural products
3. Thermal processing of agricultural products
4. Thermo physical properties of agricultural products
5. Heat shock treatment of agricultural products

Research Experience
1. 3-D inner structure of agricultural products preserved by making intracellular water structured (JSPS, 2003-2005)
2. Rekayasa otomatisasi pematangan buatan buah-buahan tropika dengan pendekatan inferensi Fuzzy (Menristek – Creata, LP IPB, 2002 - 2004)
3. Sistem pendinginan evaporatif dan radiasi malam hari untuk penyimpanan produk pertanian (DIKTI – Creata, LP IPB, 2001-2002)
4. Adsorption cooling system using silica gel – methanol (Osaka Gas Foundation - Creata LP IPB)
5. Concentration of liquid food by the use of gas hydrate (Grant-in-Aid the Bio-Oriented Technology Research advancement Institution of Japan, 1996-1998)
6. Disain sistem optimum sortasi buah-buahan berdasarkan warna dan diameter menggunakan pengendali mikrokomputer IBM PC (IPB – 1992)
7. Penentuan sifat-sifat termofisik buah-buahan tropis (IPB - 1993)
8. Disain dan uji penampilan bak pendingin air untuk menentukan sifat termifisik bahan pertanian (JICA-DGHE/IPB Project–1991/1992)
9. Rancangan ejektor untuk pendingin jet uap (JICA-DGHE/IPB Project – 1991/1992)
10. Disain sistem penyalur data lewat udara dengan menggunakan IPM PC sebagai pemroses dan peraga (IPB – 1991)
11. Penggunaan komputer untuk menentukan laju pengeringan dengan menggunakan sistem kolektor surya uap (JICA-DGHE/IPB Project – 1990/1991)
12. Penentuan nilai difusivitas panas buah-buahan dalam rangka pengembangan alat pendingin energi surya (DIKTI –1991)
13. Modifikasi rancangan dan uji teknis mesin pendingin jet uap (JICA-DGHE/IIPB Project – 1990/1991)

Publikasi
Journal
1. Purwanto, Y.A., H. Tsuchiya, S. Oshita, Y. Kawagoe, Y, Makino. 2005. Determination of chilling injury index in cucumber fruits trhough proton NMR analysis. IC-RVEA, 2005 (In press)
2. Tambunan, A.H., Rohanah, A. and Y. A.Purwanto. 2003. Karakteristik pembekuan vakum pulp markisa. Buletin Keteknikan Pertanian Vol. 17 No. 1
3. Purwanto, Y.A., S. Oshita, Y. Seo and Y. Kawagoe. 2001. Concentration of liquid foods by the use of gas hydrate. Journal of Food Engineering 47, 133-138
4. Purwanto, Y.A. 1999. Freeze Concentration Method and Its Application on the Concentration Process of Heat Sensitive Solution. Jurnal Inovasi Vol. 8 No. 4 5. Abdullah, K. and Y.A. Purwanto. 1993. Difusivitas Panas Buah-buahan Tropika. Jurnanal Keteknikan Pertanian Vol. 3 No. 1

Proceeding Symposium
1. Purwanto, Y. A. Chilling injury in agricultural product detected through its dynamic state of water. Proceeding of The 7th Symposium on Agricultural Sciences (SAS) 2005, March 26, 2005, Tokyo, Japan
2. Purwanto, Y.A., Sutrisno and H. Rizkia. Quality evaluation of mango (Mangifera indica L.) cv. Gedong gincu during storage and ripening. Proceeding of 13th Indonesian Scientific Conference 2004 Tokyo Japan.
3. Purwanto, Y.A., Sutrisno, H. Rizkia and S. Oshita. 2004. Effect of storage temperature on the quality of mango fruit (Mangifera indica L.) cv. Gedong gincu. Proceeeding of 2004 CIGR International Conference, Beijing, Paper No: 20- 117A
4. Purwanto, Y.A., S. Oshita, Y. Seo and Y. Kawagoe. 2004. Concentration of liquid foods through gas hydrate formation. AgEng Leuven 2004 Paper No. 188.
5. Abdullah, K, MAM. Oktaufik, Y. A. Purwanto and A. S. Uyun. 2002. Adsorption cooling system using silica gel – methanol. Proceeding of the Annual Meeting of CREATA, 21 August 2001, Bogor, Indonesia
6. Rohana, A., A. H, Tambunan and Y. A. Purwanto. 2001. Pembekuan vakum buah Markisa (Passiflora edutis). Prosiding Seminar Tahunan Perthimpunan Teknik Pertanain (Perteta), 10-11 Juli 2001, Jakarta
7. Purwanto, Y.A. 2001. Penentuan sifat fisik air dalam bahan pangan cair dengan menggunakan Proton Nuclear Magnetic Resonance (NMR). Prosiding Seminar Tahunan Perthimpunan Teknik Pertanain (Perteta), 10-11 Juli 2001, Jakarta
8. Purwanto, Y.A., S. Oshita, Y. Seo and Y. Kawagoe. 2000. Application Study on The Concentration of Liquid Foods by The Use of Gas Hydrate (2) Proceeding of 59th JSAM Annual Meeting
9. Purwanto, Y.A., S. Oshita, Y. Seo and Y. Kawagoe. 1999. Concentration of Liquid Food by Gas Hydrate. Proceeding of the Winter Meeting Oct., 1999 of Japanese Society of Chemical Engineering.
10. Purwanto, Y.A., S. Oshita, Y. Seo and Y. Kawagoe. 1999. Application Study on The Concentration of Liquid Foods by The Use of Gas Hydrate (1) Proceeding of 58th JSAM Annual Meeting
11. Purwanto, Y.A., S. Oshita, Y. Seo and Y. Kawagoe. The Use of Gas Hydrate for The Concentration of Liquid Food. Proceeding of the Winter Meeting Oct., 1998 of Japanese Society of Chemical Engineering
12. Purwanto, Y.A., S. Oshita, Y. Seo and Y. Kawagoe. 1998. Concentration of Liquid Foods by The Use of Gas Hydrate. Proceeding of 57th JSAM Annual Meeting
13. Purwanto, Y.A. and S. Oshita. 1998. Studies on the Concentration of Liquid Foods by The Use of Gas Hydrate. Proceeding of the Second Symposium on Agricultural Sciences and Biochemical Engineering March 1998, Tokyo, Japan
14. Oshita, S., Y. Seo, Y. A. Purwanto and Y. Kawagoe. 1997. Concentration of Liquid Food by The Use of Gas Hydrate. Proceeding of ISAMA 97, Taipe, Taiwan.
15. Purwanto, Y.A., S. Oshita, Y. Seo and Y. Kawagoe. 1997. Fundamental Study on The Concentration of Liquid Foods by the Use of Gas Hydrate. Proceeding of 56th JSAM Annual Meeting
16. Abdullah, K., and Y.A. Purwanto. 1993. Thermophysical Properties of Tropical Agricultural Products. Proceeding of the Annual Seminar on Joint Research JICA-DGHE/IPB: ADAET JTA-9a(132) Bogor, February, 1993
17. Abdullah, K., E. Hartulistiyoso and Y.A. Purwanto.1991. Vapour Jet Cooling System Using Solar Energy. Proceeding of the National Seminar on Higher Education Research, Jan. 21-24, 1991, Bogor, Indonesia
18. Abdullah, K., Y. Sagara, E. Hartulistiyoso and Y.A. Purwanto. 1990. Jet Cooling using Solar Energy. Proceeding of the Annual Seminar on Joint Reseacrh JICA-DGHE/IPB: ADAET JTA-9a(132) Bogor, , March 19 – 21, 1990
19. Yamin, M., Y.A. Purwanto, K. Abdullah and Y. Sagara. 1990. The measurement of Thermal Conductivity of Tropical Fruits. Proceeding of the Third Joint Seminar JICA-IPB, October 8-9, 1990, Bogor, Indonesia

Buku/diktat
1. Petunjuk Praktikum Thermodinamika dan Pindah Panas (Departemen Teknik Pertanian, Fateta - IPB, 2003.
2. Study on the concentration of liquid foods by the use of gas hydrate, University of Tokyo, 2000, PhD Dissertation
3. Diktat Energi dan Elektrifikasi Pertanian (Jurusan Teknik Pertanian, Fateta, IPB - 1993)
4. Petunjuk Praktikum Energi dan Elektrifikasi Pertanian (Jurusan Teknik Pertanian, Fateta, IPB - 1991)

Ilmiah Populer
1. Pengeringan beku bahan pangan, Gappmi, 2003
2. Kerjasama riset antara industri dan perguruan tinggi. Kolom Opini Kompas 15 Pebruari 1993
3. Peranan litbang dalam pengembangan pertanian. Kolom Opini Kompas 25 Pebruari 1991
4. Upaya menghemat beras, Kompas 1990
5. Pentingnya Penanganan Pasca Panen. Kolom Opini Kompas 18 Juli 1990
6. Hama penggerek batang padi, Kompas 1990
7. Lahan Kering, Alternatif Perkebunan Tebu. Kolom Opini Kompas 18 Juli 1989.
8. Usaha tani sekarang tidak menguntungkan. Kompas 1989

Extension
1. Pembangunan Agroindustri Patin di Kabupaten MuBA. Kerjasama LMAA-IPB dan Dinas Perikanan dan Kelautan, Pemerintah Kabupaten MuBA, 2003.
2. Rancang bangun kawasan pertanian hortikultura Riau, kerjasama Creata LP IPB dengan Deptan, 2002
3. Replikasi model industri kecil berbasis hortikultura (2000)
Penelitian Agrotechno Park di kabupaten Bogor. Kerjasama FATETA-IPB dengan BAPPEDA, Kabupaten Bogor, 2002.
4. Perancangan Agroindustri Patin di Kabupaten MuBA. Kerjasama LMAA-IPB dan Dinas Perikanan dan Kelautan, Pemerintah Kabupaten MuBA, 2002
5. Perancangan Pertanian Terpadu di Kabupaten MuBA. Kerjasama LMAA-IPB dan Dinas Pertanian, Pemerintah Kabupaten MuBA, 2002.
6. Pengembangan Bogor Agroteknologi Park. Kerjasama Bapeda, Kabupaten Bogor dan Lembaga Penelitian-IPB. 2003
7. Survey lapang pengembangan agroindustri dalam rangka kerjasama IPB dengan Pemda Kabupaten Kutai Timur (2002)
8. Survey lapang pengembangan agribisnis dan agroindustri dalam rangka kerjasama IPB dengan Pemda Kabupaten Musi Banyuasin (2002)
9. Penelitian keikutsertaan petani dalam sistem pasar induk Jakarta, kerjasama LPM, IPB dengan Pemda DKI (2000 - 2001)
10. Survey konsumsi sumberdaya energi biomassa rumah tangga pedesaan di propinsi Lampung (Dirjend Listrik dan Energi Baru – 1989)

Meeting
1. JSAM Kanto Branch July 3-6, 2005
2. FOOMA Japan 2005 International Food Machinery & Technology Exhibition: Academic Plaza., Tokyo, 11 -12 June 2005
3. The 7th Symposium on Agricultural Sciences (SAS) 2005, March 26, 2005, Tokyo, Japan
4. 2004 CIGR International Conference, 11-14 October 2004, Beijing-China
5. AgEng 2004, Leuven (Belgium), 12-16 September 2004
6. 13th Indonesian Scientific Conference 2004, September 5, 2004 Tokyo Japan
7 The 15th SHITA Symposium, Tokyo, 20 November 2004
8. The 40th Annual Report of KANTO Branch The JSAM, Nagano, 1 – 2 July 2004
9. FOOMA Japan 2004 International Food Machinery & Technology Exhibition: Academic Plaza., Tokyo, 8 – 11 June 2004
10. The 8th Technofesta Symposium on Food and Environment, Omiya, Japan, 19 December 2003
11. CIRERD01, Denpasar, 2001
12. The Annual Meeting of CREATA, 21 August 2001, Bogor, Indonesia
13. Seminar Tahunan Perthimpunan Teknik Pertanian (Perteta), 10-11 Juli 2001, Jakarta
14. Winter Meeting of Japanese Society of Chemical Engineering Oct., 1999
15. FOOMA Japan 1999 International Food Machinery Exhibition : Academic Plaza., Tokyo, 8 – 11 June 1999
16. The 59th JSAM Annual Meeting
17. Winter Meeting of Japanese Society of Chemical Engineering. Oct., 1998
18. The 58th JSAM Annual Meeting.
19. FOOMA Japan 1998 International Food Machinery Exhibition : Academic Plaza., Tokyo, 9 – 12 September 1998
20. The 2nd Symposium on Agricultural Sciences and Biochemical Engineering March 1998, Tokyo, Japan
21. The 57th JSAM Annual Meeting
22. FOOMA Japan 1997 International Food Machinery Exhibition : Academic Plaza., Tokyo, 10 – 13 June 1997
23. The 56th JSAM Annual Meeting.
24. FOOMA Japan 1996 International Food Machinery Exhibition : Academic Plaza., Tokyo, 28 – 31 May 1996
25. FOOMA Japan 1995 International Food Machinery Exhibition : Academic Plaza., Tokyo, 23 – 26 May 1995
26. The Annual Seminar on Joint Research JICA-DGHE/IPB: ADAET JTA-9a(132) Bogor, February, 1993
27. National Seminar on Higher Education Research, Jan. 21-24, 1991, Bogor, Indonesia.
28. The 3rd Joint Seminar JICA-IPB, October 8-9, 1990, Bogor, Indonesia.
29. The Annual Seminar on Joint Reseacrh JICA-DGHE/IPB: ADAET JTA-9a(132) Bogor, , March 19 – 21, 1990